Selama 40 tahun, C dan C++ adalah raja tak terbantahkan di dunia Embedded Systems (sistem tertanam). Namun, dominasi itu runtuh. Di tahun 2026, standar industri untuk perangkat kritis (otomotif, medis, avionik) telah bergeser ke bahasa Rust. Alasan utamanya bukan performa (karena Rust dan C++ sama-sama cepat), melainkan Memory Safety. Statistik dari Microsoft dan Google menunjukkan bahwa 70% celah keamanan (bugs) disebabkan oleh kesalahan manajemen memori (buffer overflow, use-after-free) yang lazim di C++.
Inovasi: The Borrow Checker
Rust memperkenalkan konsep revolusioner bernama Borrow Checker. Ini adalah analisis statis yang berjalan saat kompilasi (compile-time). Rust memaksa aturan ketat tentang kepemilikan variabel: hanya boleh ada satu 'pemilik' data yang bisa diubah (mutable) pada satu waktu. Jika kode Anda berpotensi menyebabkan race condition, compiler Rust akan menolaknya mentah-mentah bahkan sebelum program dijalankan. Di C++, bug seperti ini seringkali baru ketahuan saat mobil sudah berjalan di jalan raya—sebuah risiko yang tidak bisa diterima lagi.
Dampak Industri
Transisi ini masif. Linux Kernel kini mendukung Rust secara native. Bagi developer di CybermaXia, ini adalah sinyal keras: Belajar Rust bukan lagi opsi, tapi keharusan jika ingin bermain di level Low-Level System Programming. Kurva belajarnya memang curam (sulit di awal), tapi 'penderitaan' saat coding terbayar dengan kestabilan sistem yang nyaris tanpa cela saat produksi.