Departemen HR di seluruh dunia sedang berlomba mengadopsi AI untuk menyaring ribuan CV pelamar secara otomatis. Efisiensi? Ya. Adil? Belum tentu. Fenomena Algorithmic Bias menjadi bom waktu. AI dilatih menggunakan data historis perusahaan 10 tahun ke belakang. Jika secara historis perusahaan tersebut (secara sadar atau tidak) lebih sering merekrut pria lulusan universitas tertentu, maka AI akan mempelajari pola tersebut sebagai 'kebenaran' dan otomatis mendiskriminasi kandidat wanita atau lulusan kampus lain, sehebat apapun skill mereka.
Loop Setan: AI vs AI
Di tahun 2026, kita melihat fenomena absurd: Pelamar menggunakan AI (ChatGPT) untuk menulis CV agar lolos filter ATS (Applicant Tracking System), sementara HR menggunakan AI untuk membaca CV tersebut. Ini adalah loop kosong di mana mesin bicara dengan mesin, dan esensi kepribadian manusia hilang. Validitas prediksi performa kerja dari metode ini dipertanyakan secara ilmiah. Kita mungkin merekrut orang yang paling jago memakai prompt, bukan yang paling jago bekerja.
Leadership Verdict: Human in the Loop
Saran keras kami untuk klien CybermaXia: Jangan pernah membiarkan AI mengambil keputusan akhir (Final Hiring Decision). Gunakan AI hanya untuk administrasi dan ranking awal. Wawancara mendalam dan penilaian soft skill serta culture fit wajib dilakukan manusia. Audit algoritma rekrutmen anda secara berkala untuk bias gender dan ras. Efisiensi tanpa empati adalah resep kehancuran budaya perusahaan.